Sabtu, 20 September 2014

LAUT KILO-5 LUWUK BANGGAI CITY


LAUT KILO-5 LUWUK BANGGAI CITY

senangnya bisa berenang di pantai kilo 5 pemandangan alam lautnya yang indah dan bersih. terumbu karang dan berbagai aneka ragam ikan sungguh luar biasa ciptaan Tuhan YME. qt sebagai manusia patut bangga dengan apa yg ada satu pesan bagi yang cinta akan ekosistem biota laut agar bersyukur akan ciptaannya dan janganlah merusak apa yang sudah ada akan tetapi lebih ditingkatkan lagi kelestarian alam laut qt.

 


i love u  laut indonesiaq i love u too laut luwuk banggai ("kilo-5)

Selasa, 19 Agustus 2014

CARA MEMBUAT PUPUK ORGANIK



 CARA MEMBUAT PUPUK ORGANIK

Membuat pupuk organik (organic fertilizer) dalam wujud cair.
Bahan dan alat:
Kotoran domba/kambing Air bersih (dalam artian tidak tercemar bahan kimia beracun/berbahaya) Ragi tape (boleh ditambah bioaktivator seperti yang banyak dijual di pasar, kalau ada) Tong/drum ukuran volume 100-120 liter

CARA MEMBUAT BOKASHI (untuk 1 ton)
A. Bokashi Padat
Bahan:
- Hijauan daun 200 kg (hijauan daun, sisa sayuran, jerami, sekam, dll)
- Pupuk kandang 750 kg (kotoran kambing, ayam, sapi, dll)
- Dedak/bekatul 50 kg
- EM-4 1 liter
- Larutan gula pasir, 1 kg per 10 liter air
- Air secukupnya
Tahapan Pembuatan:
1. Potong sampah basah (3-5 cm), kecuali jika menggunakan sekam
2. Campurkan Sampah basah – pupuk kandang – dedak/bekatul, hingga rata
3. Larutkan EM-4 + Air gula ke dalam 200 liter air.
4. Siramkan larutan secara perlahan secara merata ke dalam campuran sampah basah-kotoran-dedak. Lakukan hingga kandungan air di adonan mencapai 30 – 40 %. Tandanya, bila campuran dikepal, air tidak keluar dan bila kepalan dibuka, adonan tidak buyar.
5. Hamparkan adonan di atas lantai kering dengan ketebalan 15 – 20 cm, lalu tutup dengan karung goni atau terpal selama 5 – 7 hari.
6. Agar suhu adonan tidak terlalu panas akibat fermentasi yang terjadi, adonan diaduk setiap hari hingga suhu dapat dipertahankan pada kisaran 45 – 50 derajad Celsius.
7. Setelah satu minggu, pupuk bokashi siap digunakan.
Aplikasi:
Untuk tanaman tahunan semisal karet, coklat, dan lainnya, gunakan bokashi padat sebagai pupuk dasar. Dua kilogram bokashi diaduk dengan tanah lalu dibenamkan di lubang tanam.
B. Bokashi Cair (untuk 200 liter)
Bahan:
- Pupuk kandang 30 kg (kotoran kambing, ayam, sapi, dll)
- Hijauan daun (secukupnya)
- EM-4 1 liter
- Gula pasir 1 kg
- Terasi 1 kg
- Air bersih 200 liter
- Dapat pula ditambah 2 kg pupuk NPK untuk memperkaya nutrisi
Tahapan Pembuatan:
1. Pupuk kandang dihaluskan
2. Gula pasir – Terasi – EM-4 – NPK dilarutkan dalam air
3. Campuran pupuk kandang dan larutan gula dimasukkan ke dalam drum plastik kemudian ditambahkan air bersih hingga volumenya mencapai 200 liter.
4. Drum ditutup rapat. Setiap hari dibuka dan diaduk selama 15 menit.
5. Bokashi cair akan siap digunakan setelah 5 – 7 hari.
Aplikasi:
1 liter bokashi dicampur dengan 9 liter air bersih. Selanjutnya, siramkan pada tanah di sekitar tanaman atau disemprotkan pada daun sebanyak 0,25 – 1 liter tergantung jenis tumbuhan.

Senin, 14 Juli 2014

BAHAN-BAHAN PENYUSUN TANAH



BAHAN-BAHAN PENYUSUN TANAH

(Oleh:  Anna K, Pairunan., dkk; Hardjowigeno)


Tanah atau dengan istilah lain adalah pedosfera (pedosphere), yang berada di atas permukaan bumi ini adalah merupakan hasil perpaduan dari beberapa bagian penyusun kerak/kulit bumi yaitu litosfer (lithosphere) kerak bumi yang terdiri dari bahan-bahan batuan, hidrosfere (hydrosphere) merupakan lapisan air dalam bentuk-bentuk samudera/lautan, sungai, danau dan air tanah yang merupakan selimut pelindung bumi dan atmosfer (atmosphere) lapisan udara yang mengandung berbagai bentuk gas yang bermanfaat bagi berbagai kehidupan.
Tanah tersusun dari empat bahan utama, yaitu bahan mineral, bahan organik, air dan udara. Bahan utama tersebut jumlahnya di dalam tanah berbeda-beda untuk setiap jenis tanah ataupun setiap lapisan tanah.  Susunan rata-rata ini atas dasar volume bagian yang dianggap optimal bagi pertumbuhan tanaman pada lapisan atas tanh 0 – 30 cm dan bertekstur lempung berdebu.  Susunan rata-rata dari lapisan tanah bawah (sub-soil) tentu saja berbeda dengan lapisan atas.  Pada tanah bawah ini kandungan bahan organik lebih rendah, bahan mineral lebih tinggi sehingga lebih padat dan pori-pori halus lebih banyak, akibatnya daya pegang air tinggi dari presentase udara jauh lebih rendah.
2.1  Bahan mineral
Bahan mineral dalam tanah berasal dari pelapukan batu-batuan, bahan mineral dalam tanah dapat dibedakan menjadi (1) fraksi tanah halus yang berukuran <2 mm dan (2) fragmen batuan yang berukuran 2 mm sampai berukuran horizontalnya lebih kecil dari sebuah pedon (satuan individu terkecil dalam tiga dimensi yang masih dapat disebut tanah.
Ukuran mineral tanah dari kasar saampai halus:
   Pasir 2 mm - 50µ               debu  50µ - 2µ               liat < 2µ
Selain itu juga mineral tanah dapat dibedakan menjadi mineral primer dan mineral sekunder.  Mineral primer adalah mineral yang berasal langsung dari batuan yang dilapuk terdapat pada fraksi pasir dan debu sedangkan mineral sekunder adalah mineral bentukan baru yang terbentuk selama proses pembentukan tanah berlangsung terdapat pada fraksi liat.  Ada beberapa jenis mineral yang ditemukan di dalam tanah yaitu mineral primer terdapat pada jenis mineral kuarsa (SiO2), kalsit (CaCO3) dan dolomit (CaMg(CO3)2). Dan untuk mineral sekunder terdapat pada jenis mineral kaolinit, haloisit, montmorilonit dan lain-lain.


Mineral sekunder atau mineral liat, pada dasarnya mengenai perbedaan hasil pembentuknya adalah ditentukan oleh reaksi lingkungan pembentuknya, yang dalam hal ini pada lingkungan yang bereaksi masam akan terbentuk mineral liat kaolinit, sedang pada lingkungan yang bereaksi netral sampai basa dan mengandung banyak magnesium akan berbentuk mineral liat montmorillonit di mana keduanya memiliki sifat yang berbeda.
            Dengan memperhatikan komponen lapisan silikat dan alumunium penyusun liat. Ada beberapa tipe liat yang berperan demikian besar dalam mengatur tentang keadaan/susunan tanah, dalam hal ini misalnya; mintmorillonit ---tipe 2 : 1 ; Kaolinit -----tipe 1 : 1 ; Halosit ---- tipe 1 : 1.
2.2  Bahan organik
Kandungan bahan organik dalam tanah-tanah mineral pada umumnya hanya menunjukkan kadar persentase yang sedikit saja, namun demikian perannya tetap besar dalam mempengaruhi sifat fisika dan kimiawi tanah.
Bahan organik umumnya ditemukan di permukaan tanah, jumlahnya hanya sedikit akan tetapi pengaruhnya terhadap tanah besar sekali, adapun pengaruhnya bahan organik terhadap sifat-sifat tanah dan akibatnya juga terhadap pertumbuhan tanaman adalah
1.  Sebagai glanurator, memperbaiki struktur tanah
2.  Sumber unsure hara N, P, S unsure mikro dan lain-lain
3.  Menambah kemampuan tanah unttuk menahan air
4.  Menambah kemampuan tanah untuk menahan unsure-unsur hara (kapasitas tukar kation tinggi)
5.  Sumber energi bagi mikroorganisme
Bahan organik di dalam tanah terdiri dari bahan organik kasar dan halus atau humus, di mana humus terdiri dari bahan organik halus berasal dari hancuran bahan organik kasar serta senyawa-senyawa baru yang dibentuk dari hancuran bahan organik melalui mikroorganisme di dalam tanah. Humus merupakan senyawa yang resisten (tidak mudah hancur) berwarna hitam atau coklat dan mempunyai daya menahan air dan unsur hara yang tinggi. Tingginya daya menahan air (menyimpan) unsur hara akibat tingginya Kapasitas Tukar Kation.
           Di daerah rawa-rawa, seperti daerah rawa-rawa pasang surut sering dijumpai tanah-tanah dengan kandungan bahan organik yang sangat tinggi dan tebal. Apabila tanah tersebut mengandung bahan organik lebih dari 20% (untuk tanah pasir) atau lebih dari 30% (untuk tanah liat) dan tebalnya lebih 40 cm maka di sebut tanah organik atau tanah gambut. Rumus perhitungan bahan Organik                          
BO (%) = 1,74   x  C-organik (%)
2.3   Air
Air terdapat di dalam tanah karena ditahan / diserap oleh masa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air atau karena keadaan drainase yang kurang baik. Kelebihan atau kekurangan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu air mempunyai kegunaan:
1. Sebagai unsur hara tanaman, tanaman memerlukan air dari tanah dan CO2 dari udara untuk membentuk gula dan karbohidrat dalam proses fotosintesis.
2.  Sebagai pelarut unsur hara, di mana unsur hara di dalam air di serap oleh akar-akar tanaman dari larutan tersebut.
3.  Sebagai bagian dari sel-sel tanaman.
Air dapat diserap atau ditahan oleh tanah karena adanya gaya adhesi, kohesi dan grafitasi. Selain itu juga ada yang namanya air hidroskopis dan air kapiler. Dalam menentukan jumlah air tersedia bagi tanaman beberapa istilah di bawah ini perlu di pahami yaitu:  Kapasitas lapang, dimana keadaan tanah yang cukup lembab yang menunjukkan jumlah air terbanyak yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik grafitasi. Air dapat ditahan oleh tanah tersebut terus menerus diserap oleh akar-akar tanaman atau menguap sehingga tanah semakin lama semakin kering. Pada suatu saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air tersebut sehingga tanaman menjadi layu (titik layu permanen). Titik layu permanen, kandungan air tanah di mana akar-akar tanaman mulai tidak mampu lagi menyerap air dari tanah, sehingga tanaman menjadi layu. Tanaman akan tetap layu baik pada siang maupun malam hari.  Air tersedia, banyaknya air tersedia bagi tanaman yaitu selisih antara kadar air pada kapasitas lapang dikurangi kadar air pada titik layu permanen.
Air tersedia  =  KLP  -  TLP
            Kandungan air pada KLP ditunjukkan oleh kandungan air pada tegangan 1/3 bar (33 k Pa), sedang kandungan air pada TLP adaalh tegangan 15 bar (1500 kPa) sehingga air yang tersedia bagi tanaman adalah air yang terdapat pada tegangan 1/3 bar – 15 bar atau 33 kPa – 1500 kPa.
2.4       Udara
Udara dan air mengisi pori-pori tanah. Banyak pori-pori di dalam tanah kurang lebih 50 % dari volume tanah sedang jumlah air dan udara di dalam tanah berubah-ubah.  Tanah –tanah tergenang air semua pori-pori tanah terisi air, sedang pada tanah- tanah lembab atau kering ditemukan air terutama pada pori mikro sedang udara mengisi pori-pori tanah yang tidak terisi air.
            Susunan di dalam tanah berbeda dengan susunan udara di atmosfir sebagai berikut:
1.    Kandungan uap air lebih tinggi, dimana tanah-tanah yang lembab mempunyai udara dengan kelembaban nisbi (relative humidity = RH) mendekati 100%
2.     Kandungan CO2 lebih besar daripada atmosfer (<0,03 %)
3.     Kandungan O2 lebih kecil daripada atmosfer (udara tanah 10-12%   O2 ; atmosfer 20 % O2
Hal tersebut mungkin disebabkan karena kegiatan dekomposisi bahan organik atau pernapasan organisme hidup dalam tanah dan akar-akar tanaman yang mengambil O2 dan melepaskan CO2.
2.5   Kesimpulan
            Tanah terbentuk dari hasil pelapukan batuan dimana tanah mengandung bahan mineral, bahan organik, air dan udara yang membantu tumbuh kembangnya tanaman.

Selasa, 17 Juni 2014

Konsepsi-konsepsi Tanah



Konsepsi-Konsepsi Tanah

1.    Tanah Sebagai Tempat Berpijak

Sejak permulaan sejarah manusia, sudah disadari bahwa tanah adalah tempat memberikan kebebasan  dalam melakukan aktifitas  untuk berdiam dan hidup diatasnya. Bumi sebagai tempat berpijak dan pusat kehidupan merupakan anugerah terindah yang diberikan oleh sang maha Pencipta. Pemberian yang sangat luar biasa ini merupakan amanah yang harus dikelola secara seimbang.

2.  Tanah sebagi hasil Pelapukan Batuan

            Tanah berasal dari pelapukan batuan di mana terjadi pengikisan batuan yang besar menjadi batuan yang kecil akibat oleh pengaruh alam baik itu dari air maupun angin.  Lapisan tanah yang lapuk dinamakan regolit.  Tebalnya regolit bervariasi dari sangat dangkal sampai sangat dalam.  Bagian atas regolit yang mengalami pelapukan biokimia pada umumnya disebut tanah.

3. Tanah sebagai campuran berbagai bahan

Tanah sebagai campuran berbagai bahan bangunan dan tanah buatan, di mana seorang ahli bangunan mempunyai perhatina yang lebih banyak terhadap ketahanan fisik tanah untuk pembuatan bangunan sehingga untuk tanah –tanah yang sifatnya kurang mendukung karena daya dukung rendah tidak sesuai untuk fundasi bangunan jalan.  Kemudian untuk tanah buatan yang disusun dari tanah lapisan atas, pasir dan bahan organik  contonya lumpu dari daerah kanal dan bendungan diambil kembali dan disebar ke daerah-daerah pertanian untuk dijadikan usah pertanian
                                         
4.  Tanah Sebagai media pertumbuhan tanaman
Pertumbuhan tanaman tidak hanya dikontrol oleh faktor dalam (internal), tetapi juga ditentukan oleh faktor luar (eksternal). Salah satu faktor eksternal tersebut adalah unsur hara esensial. Unsur hara esensial adalah unsur-unsur yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman. Apabila unsure tersebut tidak tersedia bagi tanaman, maka tanaman akan menunjukkan gejala kekurangan unsure tersebut dan pertumbuhan tanaman akan merana. Berdasarkan jumlah yang diperlukan kita mengenal adanya unsur hara makro dan unsur hara mikro. Unsur hara makro diperlukan oleh tanaman dalam jumlah yang lebih besar (0.5-3% berat tubuh tanaman). Sedangkan unsur hara mikro diperlukan oleh tanaman dalam jumlah yang relatif kecil (beberapa ppm/ part per million dari berat keringnya). Unsur hara makro antara lain: C, H, O, N, P, K, S, Ca, dan Mg. Sedangkan yang termasuk unsure hara mikro adalah : Fe, B, Mn, Cu, Zn, Mo, dan Cl. Beberapa unsur ada yang esensial bagi tanaman tertentu, misalnya Na, Si dan Co.

 5.   Tanah sebagai suatu system  Tiga fase

            Tanah dapat dipandang sebagi suatu sistem tiga fase yaitu terdiri dari fase padat, cair dan gas. Fase padat terdiri dari bahan mineral dan bahan organik. Pori-pori tanah berada di antara butiran dari fase padar di mana pori-pori terisi  oleh fase gas atau cair. Kegiatan biologis, seperti respirasi dan dekomposisi bahan organik memerlukan oksigen dan karbondioksida yang mengakibatkan adanya proses difusi oksigen dari udara ke dalam tanah dan karbondioksida dari tanah ke udara.